Posts

Berdua Saja

Malam ini adalah kesekian kalinya kita bertemu. Saling menumpahkan rindu, tanpa memperdulikan waktu yang sudah berlalu. Hari ini adalah kesekian kalinya kita berjumpa. Saling melemparkan canda, untuk tawa yang memekakan telinga. Sudah tak terhitung berapa jam, menit, ataupun detik yang kita lalui bersama. Kau tau, rasa bosan yang menjadi momok menakutkan bagi setiap pasangan, sungguh aku tak merasakannya. Antusiasme ku tetap tinggi saat ingin bertemu denganmu, masih sama seperti kita pertama kali bertemu dulu. Ada rindu yang menggebu ketika aku jauh darimu. Ada rasa candu yang menyelimuti diri, ketika aku melihat senyummu lagi. Aku tau aku hanyalah manusia biasa yang sering melakukan salah. Aku tau aku mempunyai banyak kekurangan, yang terkadang sering kali membuatmu merasa tak nyaman. Tak jarang, karna kesalahanku itulah  yang menimbulkan pertengkaran. Tapi ketauilah apapun jalannya nanti, diri ini takkan pernah pergi. Biarkanlah aku menggemgam tangannmu, dan ...

Kotak Kenangan

Untuk kamu, pemilik rindu. Hai, apa kabarmu ?  Kutau hari-harimu sebulan terakhir tidaklah baik. Banyak tugas-tugas dan tuntutan-tuntutan yang harus kau selesaikan sebelum waktunya habis. Aku tau, kau bekerja lebih keras untuk menyelesaikan tugasmu itu. Terlihat dari mukamu yang tak seperti biasanya. Mukamu lelah. Terlihat sangat jelas. Kantung matamu yang semakin menebal dan menghitam, menambah kesan bahwa kau sedang dalam beban besar. Memikul beban itu sendirian.  Tapi tenang, semua itu tak menutup wajah manismu. Tatapan teduhmu tetap ada. Tetap menetramkan seperti biasanya. Ingin sekali ku membantumu, menyuruhmu istirahat, atau sekedar menemanimu dalam mengerjakan tugasmu itu. Setidaknya aku ingin kau tau, kau bisa membagi bebanmu itu padaku, walaupun hanya sedikit. Aku akan dengan senang hati melakukannya. Selagi itu bisa membuatku, tetap terus berada disampingmu. Seperti dulu. Namun apa dikata, kita tau tak semua hal bisa kita paksakan. Semesta berkata lain, k...

Untuk 2 Manusia Super di Kehidupan Nyata

Surat terbuka untuk 2 manusia super di kehidupan nyata… Pak, Buk, mungkin ketika kalian membaca ini, kalian akan merasa heran, kenapa aku harus repot-repot menuliskan ini untuk kalian. Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa aku tidak berbicara langsung dengan kalian, kan serumah, setiap hari bertemu, setiap hari berpapasan dan saling berbincang. “ah ada-ada saja kau nak”. Mungkin kalimat itu yang akan kalian lontarkan padaku ketika aku meminta kalian untuk membaca ini. “facebook saja bapak dan ibuk baru bisa kemaren ini, lalu sekarang kau meminta bapak untuk membuka blog. Apa lagi itu blog, seperti facebook juga kah?”. Dan pertanyaan itu, mungkin akan langsung bapak atau ibuk tanyakan padaku. Pak, Buk, bukan maksudku untuk merepotkan kalian. Aku tau kalian baru saja belajar bagaimana menggunakan internet kemarin. Dengan susah dan butuh waktu yang cukup lama, kalian baru mengerti cara menggunakannya (walaupun butuh dipandu juga). Entahlah, hanya saja bagiku lebih mudah m...

Melodi Sendu Dari Hati Yang Meradang

Minggu pagi dipenghujung februari. Pagi ini hujan datang. Membawa kesejukan yang amat menenangkan. Pagi yang syahdu. Untuk hati yang kelu. Semilir angin masuk menerobos sela sela jendela yang terbuka. Hawa dingin yang terasa, membuatku menarik selimut yang sedari ada. Hawa dingin ini membawaku pada satu masa di mana aku terluka akan dia yang ku cinta. Kembali memori pilu itu membuatku terasa kaku. Rasa sakit itu kembali menguak, yang dalam sekejap membuat semuanya menjadi begitu sesak. Kesalahanku, yang selalu menjadikanmu pelabuhan rindu… Tak pernah kutau akhirnya akan seperti ini. Kamu yang kucinta, meninggalkanku demi dia yang membuat hatimu berbunga-bunga. Kau taburkan benih-benih bahagia, walau pada akhirnya hanya sakit yang kurasa. Kesalahanku, selalu percaya bahwa kepadaku lah hatimu berlabuh… Tak ada yang abadi di dunia. Termasuk kisah kita berdua. Yang kau hancurkan sedemikan rupa, sehingga hanya perih yang tersisa di dada. Aku yang bod...

Di penghujung senja, di Stasiun Kereta

Image
Di penghujung senja, di sudut stasiun kereta. Tak jauh dari stasiun tersebut, terdapat palang pintu rel kereta api. Semua pengguna jalan kian bertambah memenuhi antrian menunggu sang kereta lewat. Ia bak raja yang melintas di tengah kota yang menjadi pusat perhatian bagi siapa saja yang melihatnya. Semua orang takjub, terpaku menanti kedatangannya. Wajah-wajah lelah menghiasi beberapa pengguna jalan, terutama para pengendara motor-yang wajahnya dapat jelas terlihat. Semuannya menunggu. Di sebrang antrian panjang itu, para pedagang menjajakan dagangannya. Yang mayoritas mereka semua adalah pedagang makanan dan satu dua pedagang mainan anak kecil. Yang terlihat mencolok adalah sebuah  angkringan(warung makan sederhana dengan gerobak) yang dipenuhuhi pembeli. Seperti sebuah kue manis yang dikerubungi oleh semut. Beberapa orang tampak sedang duduk santai di sampingnya, dengan tikar yang memang sudah di sediakan oleh pemilik angkringan tersebut. Semuanya bercengkrama ramah deng...

Untuk kamu yang pernah aku panggil sahabat

Image
Hei, apa kabar ? Sudah tak terhitung berapa hari yang kita lewati tanpa kita bersama. Tunggu dulu, hari ? ah itu terlalu sebentar, mungkin sudah masuk hitungan bulan atau bahkan tahun ? entahlah, ternyata ingatanku tak cukup kuat untuk mengingatnya. Kebersamaan yang dulunya selalu menghiasi hari-hari kita, kini sudah tak dapat kita rasakan lagi. Kita berjalan pada jalur yang berbeda. Saling berusaha mewujudkan impian kita masing-masing. Tentu kau tak lupa, dimana waktu itu kita sering tertawa bersama, menghabiskan detik tiap detik dengan candaan dan tawa renyah tanpa ada sedikitpun kesedihan. Semuanya terasa baik-baik saja, karena kita saling percaya bahwa kita tak sendiri. Karena kita percaya, bahwa aku, ataupun kamu, akan selalu bersama-sama untuk selamanya. sumber: google.com

Untuk Kamu Pemendam Rasa..

Untuk kamu pemendam rasa, menahan perasaan dengan waktu yang cukup lama. Membiarkan semuanya tertutup rapat. Tersimpan rapih di sudut hati yang gelap. Tanpa pernah tau sampai kapan ia akan merahasiakannya. Atau mungkin, takkan pernah disampaikan. Karena tak ada sedikitpun keberanian, walau untuk sekedar menanyakan kabar, sekedar mengucapkan sapaan, sekedar memberikan candaan. Mulutnya terasa kaku, tubuhnya gemetar, hatinya berdebar kencang. Dia telah melihatmu begitu lama. Diam-diam memperhatikanmu. Selalu antusias mengetahui semua tentangmu. Tanpa pernah berfikir, apakah kamu mengetahui semua itu. Dia tetap melakukan pekerjaannya itu. Dia tak bisa melawan keinginan hatinya untuk bisa mengenalmu lebih jauh. Tapi kadangkala logika menghentikannya. Pikirannya mensugestikan dirinya sendiri. Bahwa semua yang dia lakukan adahal hal yang-sia-sia.